INTERVENSI BIOMEDIS PADA ANAK AUTISME

Tidak ada komentar

Sekilas Sejarah Autisme
Autisme ditemukan pertama kali oleh seorang Ahli Kesehatan jiwa bernama Leo Kanner ( 1943 ). Kanner menjabarkan tentang 11 pasien kecilnya yang berprilaku ‘aneh’ yaitu asik dengan dirinya sendiri, seolah – oleh hidup dalam dunianya sendiri dan menolak berinteraksi dengan orang lain disekitarnya. Kanner menggunakan istilah ‘autisme’ yang artinya hidup dalam dunianya sendiri.
Kanner berhipotesa bahwa pada anak autis terjadi gangguan metabolisma yang telah dibawa sejak lahir ( in born error of metabolism ). Namun karena pada masa itu alat – alat kedokteran tidak memungkinkan Kanner melakukan penelitian, maka hipotesanya belum dapat dibuktikan.
Pada awal perang dunia II seorang Yahudi dari Wina bernama Bruno Bettleheim, mengaku dirinya seorang ahli pendidikan dan psikolog lulusan Wina bahkan mengaku sebagai murid dr. Sigmunt Freud di Amerika, Bettleheim dipercaya mengelola sekolah dan asrama untuk anak – anak gangguan kejiwaan. Menurutnya, anak – anak autisme adalah anak – anak yang ditolak keluarga, terutama sang ibu. Pandangan ini sempat meluas. Tapi kemudian dibantah karena ternyata orang tua dari anak autis sangat menyayangi anaknya. Teori Bettleheim ini kemudian ditolak mentah – mentah, bahkan belakangan Bettleheim meninggal karena bunuh diri, diketahui bahwa Bettleheim bukanlah ahli pendidikan, psikolog, apalagi murid Sigmunt Freud.
Pada tahun 1964 Benhard Remland seorang psikolog dan ayah seorang autisma berhipotesa bahwa kelainan Susunan Saraf Pusat mungkin melandasi gejala autisme.
Pada tahun 1950 Margareth Bauman ( Departement of  Neurology, Harvard Medicene Scholl ) dan Erik Courchense ( Departement of Neurosains, University of California, San Diego ) menemukan kelainan Sususnan Saraf Pusat ( SSP ) pada beberapa tempat dari anak autiseme yaitu :
  1. Pengecilan Cerebellum ( otak kecil ) terutama Lobus VI – VII. Lobus VI – VII berisi sel – sel Purkinje, yang memproduksi Neurotransmiter Cerotonin. Pada anak autiseme, jumlah sel Purkinje sangat kurang, akibatnya produksi Cerotonin berkurang sehingga penyaluran rangsang / informasi antar sel otak kacau.
  2. Kelainan struktur pada pusat emosi dalam otak ( Sistem Limbik ), yang bisa menerangkan kenapa emosi anak autis sering terganggu.
Penemuan ini membantu para dokter untuk memberikan terapi yang bekerja pada SSP dan mampu memperbaiki emosi, proses pikir dan prilaku. Hasilnya, anak menjadi lebih mudah bekerja sama sehingga terapi lain dapat berjalan.
Pada tahun 1997, seorang anak autis dapat ‘sembuh’ setelah diberikan sekretin ( hormone perangsang pancreas sehingga lancer memproduksi enzim peptidase ). Selanjutnya banyak orang tua memburu sekretin untuk anak autisnya tapi tidak semua berhasil baik. Hal ini menunjukkan bahwa pencetus autisme pada masing – masing anak berbeda – beda.
Pada tahun 1998, seorang dokter ahli pencernaan bernama dr. Andrew Wakefield ( berkebangsaan Inggris ), dengan endoskopi menjumpai peradangan usus pada kebanyakan anak autis, yang disebabkan karena virus campak yang sama dengan virus campak yang disuntikkan melalui vaksinasi MMR. Akibatnya, sejak saat itu banyak orang tua yang menolak imunisasi MMR pada anaknya. Atas hasil penelitiannya dokter Wakefield dipecat dari Royal College Hospital.
Namun disaat yang hampir bersamaan di Amerika, beberapa orang melakukan riset yang hampir sama dengan Wakefield. Berdasarkan hasil riset tersebut maka dilakukan juga riset mengenai terapi diet untuk anak autis. Sementara itu dokter Wakefield pindah bekerja sebagai kepala bagian riset di International Child Development Resource Centre di Florida.
Pada tahun 2000 Sallie Bernard, ibu seorang anak autis meneliti vaksin yang memakai Themerosal dan menemukan bahwa gejala anak autis hampir sama dengan gejala keracunan mercury.
Sampai sekarang penelitian tentang autisme terus berkembang seiring dengan makin meningkatnya penemuan anak – anak autisme. Berdasarkan Centre Of Disease Control And Prevention ( CDC ), sekarang 1 di antara 166 kelahiran anak di Amerika berada dalam spectrum autiseme. Peningkatan kasus ini juga terjadi di Indonesia.

Kriteria Diagnosis
Menurut Diagnosis and Statistical Manual Of Mental Disorder ( DSM ) IV dari American Psychiatric Assosiation ( APA ), kriteria klinis Autisme adalah dilihat dari tampilan perilaku anak. Dikelompokkan dalam tiga bidang hendaya ( impairment ) utama yaitu :
1.      Hendaya dalam Interaksi Sosial
Ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara non verbal, seperti kontak mata, mengekspresikan perasaan lewat ekspresi wajah, kemampuan menampilkan gerak – gerak tubuh dalam interaksi sosial. Ketidakmampuan berinteraksi dengan teman sebaya yang sesuai dengan perkembangan usia, tidak mau terlibat dalam aktivitas, minat yang melibatkan orang lain, serta kurangnya ekspresi sosial atau emosional yang timbale balik dengan orang lain.
2.      Hendaya dalam Komunikasi dan Pola Tingkah Laku Repetitif
Keterlambatan dalam perkembangan bicara, kurang keinginan untuk memulai atau mempertahankan pembicaraan dengan orang lain, penggunaan bahasa yang kaku dan repetitive, kurang aktivitas permainan imajinatif yang spontan dan melibatkan orang lain.
3.      Minat dan Aktivitas yang Sangat Stereotipe dan Kaku
Ritual-ritual spesifik ( menghidup-matikan lampu ), gerakan-gerakan stereotype dan repetitive ( hand-flapping ), preokupasi terhadap minat tertentu yang sangat terbatas atau hanya terhadap bagian-bagian tertentu dari suatu subjek.

Jenis Autisme
1.      Autisme Infantile ; Autisme yang sudah terjadi sejak lahir
2.      Autisme Regresif ; Autisme yang baru terjadi setelah anak berusia 1,5 – 2 tahun. Sampai umur 18 bulan ( 1,5 tahun ) pertumbuhan dan perkembangan anak normal, tapi setelah itu terjadi kemunduran perkembangan.

Gangguan Metabolisme Pada Anak Autisme
Perkembangan riset mengenai autisme saat ini ditujukan pada gangguan metabolisme. Karena ternyata banyak sekali gangguan pencernaan, alergi makanan, gangguan kekebalan tubuh, ketidakmampuan membuang racun dari tubuhnya sehingga banyak dari mereka yang keracunan logam berat. Semua ganngguan ini saling berkaitan dan akhirnya mengganggu fungsi otak.
Di sisi lain, penelitian menunjukkan, 80% anak autis di Indonesia mengalami keracunan logam berat, seperti Timbal ( Pb ), Merkuri ( Hg ), Cadmium ( Cd ), Stibium ( Sb ). Kontaminasi logam berat ini bisa berasal dari polusi udara ( asap knalpot mengandung Timbal ), tambalan gigi amalgam, vaksin yang menggunakan merkuri sebagai pengawet, serta jika mengkonsumsi ikan di perairan yang tercemar.
Logam berat yang masuk ke dalam tubuh bersifat destruktif. Merkuri terutama merusak myelin ( selaput pelindung saraf – saraf otak ). Akibatnya sel – sel darah otak ibarat kabel listrik yang terbuka dan rusak, tidak bisa berfungsi dengan baik.
Selain merusak enzim pencernaan, merkuri juga menimbulkan turunnya daya kekebalan tubuh. Celakanya, jika sakit, anak akan mendapatkan antibiotika. Padahal antibiotik tidak hanya membunuh kuman – kuman penyakit, tetapi juga bakteri – bakteri baik dalam perut seperti lactobacillus. Dengan terbunuhnya lactobacillus, keseimbangan yang ada di dalam tubuh menjadi berubah. Jamur yang pertumbuhannya selama ini dikontrol oleh lactobacillus, bisa berkembang bebas di usus. Jamur berkembang biak dan menempelkan diri ke dinding usus dan mengeluarkan enzim pencernaannya sendiri. Akibatnya dinding mukosa usus menjadi berlubang – lubang kecil. Lubang – lubang ini meningkatkan permeabilitas usus, yaitu kemampuan usus untuk menyerap partikel – partikel makanan.
Proses penyerapan protein pada anak autis juga terganggu. Protein terdiri dari rangkaian panjang asam amino. Bila pencernaan baik, maka rantai tersebut putus semua menjadi satuan asam amino. Namun jika pencernaan kurang sempurna, maka rantai tidak putus secara total, tapi masih ada rantai pendek yang terdiri dari 2-3 asam amino. Rantai pendek ini disebut Peptide.
Pada anak autisme, karena mukosa usus lebih bisa ditembus air, peptide sanggup menyelinap melalui lubang – lubang kecil pada mukosa, lalu terserap oleh usus dan dibawa aliran darah ke otak. Di sini, jika peotide bersatu dengan sel – sel reseptor opioid, mereka akan bereaksi seperti morfin.
Glutein dan Casein adalah dua jenis protein yang sulit dicerna. Pada anak autisme, Glutein dan Casein tidak dapat dipecah menjadi asam amino, melainkan masih terdiri dari rangkain beberapa asam amino peptide dan tidak bisa terserap tubuh karena ukurannya yang besar. Namun karena keadaan usus lebih bisa ditembus air, peptide sanggup menyelinap melalui lubang – lubang kecil pada mukosa, lalu terserap oleh usus dan dibawa aliran darah ke otak. Di otak, peptide ini bersatu dengan sel – sel seseptor opioid, bereaksi menjadi seperti morfin. Peptide yang berasal dari Gluten akan menjadi Gluteomorphin, sedangkan peptide yang berasal dari casein akan menjadi caseomorphin.
Diding usus yang lebih bisa ditembus air ini juga mendasari keadaan multiple food Allergy ( Alergi terhadap berbagai jenis makanan ). Makanan – makanan yang belum tercerna dengan sempurna akan menyelinap melewati  lubang – lubang kecil pada dinding usus. Di luar dinding usus, terdapat sel – sel pembuat antibody. Oleh sel – sel antibody, makanan yang belum tercerna sempurna tadi dianggap sebagai zat asing dalam tubuh.  Bila kebetulan yang belum tercerna secara sempurna ini adalah telur, maka telur akan disergap oleh sel – sel pembuat antibody, selanjutnya akan dibuat antibody untuk telur, akibatnya tubuh anak autisme tersebut akan alergi terhadap telur. Hal yang sama terjadi untuk bahan – bahan makanan lainnya.

Pemeriksaan  Metabolisme
Berbagai gangguan metabolisme bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium. Bahan yang diperiksa adalah :
1.      Feces. Pemeriksaan feces mengungkapkan adanya jamur, bakteri aerobic dan anaerobic, parasit dalam usus serta gangguan dan keadaan dinding usus.
2.      Urine. Pemeriksaan urin bertujuan untuk mengukur banyaknya peptide dan keseluruhan asam organic ( organic acid profile ) yang ke luar dalam urin.
3.      Darah. Pemeriksaan darah lengkap yaitu kimiawi darah, fungsi hati, ginjal, alergi makanan, system kekebalan tubuh,  kadar vitamin dan logam berat dalam darah.
4.      Rambut. Indikator untuk mengetahui adanya kandungan berbagai macam mineral dan logam berat dalam tubuh, terutama logam – logam berat seperti aluminium ( AI ), Arsenik ( As), Cadmium ( Cd ). Air Raksa ( Hg ), Timbal ( Pb ), dan Antimoni ( Sb ).

Intervensi Biomedis
Intervensi Biomedis mencakup pengaturan pola makan, menghindari makanan tertentu dan menambah makanan lain. Intervensi Biomedis harus segera dilakukan setelah hasil tes laboratorium dipenuhi. Semua gangguan metabolisme yang ada harus diperbaiki apakah dengan obat, vitamin, suplemen makanan maupun pengaturan diet. Yang paling berat adalah jika anak keracunan logam berat. Apabila logam berat itu tidak cepat dikeluarkan, ada kemungkinan sel – sel otak akan mengalami kerusakan permanent.

Detoksifikasi / Kelasi
Mengeluarkan logam berat dari tubuh dan otak anak disebut detoksifikasi atau kelasi ( Chelation ). Kelasi baru boleh dilakukan jika metabolisme dalam tubuh anak sudah diperbaiki selama lebih kurang 3 – 6 bulan. Kelasi harus berada dalam pengawasan yang tepat karena pemakaian obat – obat tertentu akan berpengaruh pada kerja ginjal dan organ lain.
Sebagian besar logam berat akan dikeluarkan melalui urine. Oleh karena itu ginjal harus dijaga dalam dalam keadaan baik. Demikian juga pencernaan harus berada dalam keadaan baik. Secara berkala, fungsi ginjal dan alat pencernaan harus diperiksa.

Tahapan Intervensi Biomedis
Yang menjadi target dalam pelaksanaan intervensi biomedis adalah kemajuan kondisi anak. Jadi efek negatif yang ditimbulkan terlalu banyak, tak ada gunanya intervensi diteruskan. Terapi dalam intervensi ini tidak berdiri sendiri dan tetap dipadukan dengan terapi-terapi lain.
Tahapan intervensi biomedis :
1.      Gencatan senjata (ceasefire)
2.      Menilai problem dan mencari persamaan
3.      Proses membangun kembali (rekonstruksi)

1.      Gencatan senjata (ceasefire)
Atas dasar teori kelebihan opioid pada penyandang autisme, para ahli sepakat bahwa penyandang autisme harus menghilangkan sumber peptida, yaitu Glutein dan Casein. Anak autis harus menjalankan diet yang disebut Diet GF-CF (Gluten-free dan Casein-free). Selain diyakini dapat memperbaiki gangguan pencernaan, juga bisa mengurangi gejala atau tingkah laku autisme anak.
Gluten adalah protein yang berasal dari keluarga gandum-ganduman. Hasil olahan yang mengandung gluten adalah semua yang berasal dari tepung terigu seperti makaroni, spagetti, mie, ragi, juga bahan pengembang kue dan roti. Selain itu, sereal atau snack-crackes juga umumnya terbuat dari gandum-ganduman.
Sedangkan casein adalah protein yang berasal dari susu sapi. Produk olahan yang mengandung casein selain susu sapi segar maupun susu bubuk adalah mentega, keju, yoghurt, cokelat dan es krim.
Diet GF-CF memang  sangat disarankan. Tapi dengan catatan, asupan glutein dan casein jangan dihentikan sama sekali. Sebab ibarat pecandu narkoba, jika mendadak dihentikan bisa mengalami sakaw/ketagihan. Pada anak autis, jika glutein-casein tiba-tiba dihentikan justru bisa memperburuk kondisi anak.
Penyetopan asupan glutein-casein dari menu makanan dilakukan secara bertahap. Caranya, makanan yang baru dicampur bersama-sama dengan yang masih mengandung glutein-casein. Contohnya, mencampur susu kedelai dengan susu sapi, sambil mengurangi proporsi susu sapinya.
Menghilangkan glutein dari makanan tidak membawa efek langsung, kecuali pada anak-anak yang masih sangat kecil. Perubahan mungkin baru terlihat dalam waktu 3-4 minggu atau lebih. Oleh sebab itu, menghilangkan gluten sebaiknya paling sedikit 3 bulan. Setelah itu dievaluasi kemajuan anak. Diet bebas glutein ini tidak menimbulkan efek buruk karena berkurangnya secara bertahap. Efek ketagihannya lebih ringan, tapi cenderung lebih lama. Banyak kasus memperlihatkan bahwa kemajuan penyandang autisme dicapai setelah menjalankan diet bebas glutein selama 7-9 bulan.
Yang harus diingat bahwa glutein-casein adalah protein yang sangat penting untuk pertumbuhan. Dalam melaksanakan diet GF-CF, sumber protein bisa diperoleh dari protein nabati yang banyak terdapat pada kelompok kacang-kacangan atau protein hewani yang banyak terdapat pada daging ayam, sapi, maupun ikan.

2.      Menilai problem dan mencari persamaan
Setelah dilakukan diet GF-CF, seolah-olah tersibak banyak faktor pencetus gejala autisme lain, yang umumnya berasal dari makanan. Untuk mempermudah mengevaluasi dapat dibuat buku harian (Food Diary), selama sebelum maupun sesudah melakukan diet.
Jika ada makanan yang dicurigai, sebaiknya makan tersebut dihilangkan dari diet untuk jangka weaktu kira-kira 2 minggu untuk kemudian dilihat efeknya.
Perlu diingat bahwa manghilangkan beberapa jenis makanan penting (susu dan gandum) berarti juga mengurangi pemasukan vitamin dan mineral ke dalam tubuh anak. Oleh karena itu, anak harus diberi cukup vitamin dan mineral supaya tubuhnya tetap sehat. Penambahan vitamin dan mineral harus berada dalam pengawasan dokter dan ahli gizi. Jika hal ini tidak dilakukan, maka proses metabolisme pencernaan dan penyerapan zat-zat makanan akan terganggu.

3.      Proses membangun kembali (rekonstruksi)
Pada tahapan ini dilakukan pemberian-pemberian suplemen sesuai kebutuhan anak. Pemberian suplemen ini harus berada dalam pengawasan dokter.

Bagaimana caranya agar diet anak autis berjalan baik ?
  1. Sabar
  2. Buat tampilan makan yang mirip
  3. Hindari timbulnya rasa perbedaan dengan anggota keluarga lain
  4. Dukungan keluarga
(Dr. Christina Maria Aden)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Terima Kasih telah berkunjung. Silahkan isi kotak komentar yang telah disediakan.